Lokakarya Manajemen Penyelenggaraan Festival Panji

TULUNGAGUNG: Menyongsong diselenggarakannya Festival Panji Nusantara 2019, Ditjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan  dan Kebudayaan RI menyelenggarakan Lokakarya  Manajemen Penyelenggaraan Festival Panji di Tulungagung, 18 – 19 Juni 2019. Acara ini bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur (cq UPT Laboratorium, Pelatihan dan Pengembangan Kesenian) serta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tulungagung. Materi yang disajikan meliputi Bidang Pengelolaan Pengetahuan,  Kurasi & Produksi, serta Komunikasi dan Kerjasama).

Acara ini diselenggarakan sebagai bagian dari kegiatan pengembangan platform Indonesiana, yaitu sebuah struktur hubungan terpola antar penyelenggara kegiatan budaya daerah di Indonesia, yang dibangun secara gotong royong. Dalam platform ini maka yang menjadi pelaku utama adalah pihak seniman atau komunitas, sedangkan pihak pemerintah berposisi sebagai fasilitator. Dalam konteks ini maka penyelenggaraan suatu kegiatan harus berlandaskan asas gotong royong.

Kegiatan ini harus didukung dengan manajemen penyelenggaraan festival yang baik yang meliputi kurasi, produksi, komunikasi, kerjasama dan pengelolaan pengetahuan, sehingga hal ini tidak hanya memperluas gaung festival dan memperkuat citra daerah, tetapi juga membuka ruang transformasi nilai yang mampu memperkuat identitas budaya masyarakat, gotong royong antar unsur dalam ekosistem kebudayaan, pertukaran pengetahuan lokal,  dan lain-lain.

Karena itu acara workshop selama dua hari ini dimaksudkan untuk meningkatkan kapasitas tim penyelenggara dan tim pelaksana daerah, khususnya di bidang pengelolaan pengetahuan, kurasi dan produksi, komunikasi dan kerjasama dalam lingkup manajemen penyelenggaraan festival; dan juga mematangkan kinerja masing-masing bidang kegiatan.

Lokakarya diikuti oleh peserta dari Kab Blitar, Kab Tulungagung, Kab Kediri, Kota Kediri, serta Kota Malang yang merupakan tim kerja (Panitia) seusai dengan bidangnya (Kurasi, Produksi, Pengelolaan Pengetahuan, dan Komunikasi dan kerjasama). Berdasarkan bidang-bidang itulah maka peserta dibagi tiga kelompok diskusi.

Pemaparan materi sepenuhnya disampaikan oleh Tim Indonesiana, yang terdiri dari Wicaksono Adi, Anung Karyadi, Heru Hikayat, Jito, Firdaus Cahyadi serta  juga Edi Irawan,  Direktorat Kesenian Ditjenbud Kemendikbud, yang sekaligus menjadi koordinator pusat Indonesiana.

Beberapa isu yang mengemuka sepanjang acara ini adalah:

  1. Seharusnya Festival ini dapat dilaksanakan menjadi lebih baik karena tahun lalu sudah diselenggarakan Festival Panji Internasional 2018 dan sebelumnya juga dilaksanakan Festival Panji Nasional. Sementara Kabupaten Kediri sudah mengklaim sebagai Bumi Panji dan Kota Kediri sebagai Kota Panji. Bahkan dalam peringatan Hari Jadi Kabupaten Kediri selalu mengibarkan tema “Panji Balik Kampung.” Jadi isu Panji bukan hal yang tiba-tiba saja muncul.
  2. Dengan prinsip gotongroyong sebagaimana yang menjadi asas Indonesiana maka para pihak yang terdapat di empat kota/kabupaten ini (Kota Malang, Kab. Blitar, Kab. Tulungagung, dan Kab. Kediri) akan memudahkan proses pelaksanaannya. Ibarat sebuah mozaik, maka tinggal merekatkan potongan-potongan potensi ini menjadi kekuatan yang luar biasa. Bahwa Panji adalah milik Jawa Timur dan milik Indonesia.
  3. Dengan adanya Tim Kurator maka festival ini (diharapkan) menjadi lebih baik karena semua konten direncanakan berdasarkan tema yang sudah didiskusikan. Namun demikian mengingat keterbatasan waktu maka kerja kuratorial tidak sepenuhnya dapat terlaksana sesuai rencana sehingga di sana-sini dilakukan kompromi teknis dengan Tim Pelaksana dan pemerintah kab/kota sebagai penyelenggara di daerah. Meski demikian dalam festival kali ini kurator harus memantau semua materi yang akan tampil dan memberikan pendampingan manakala diperlukan. Hanya saja, status Tim Kurator dan Tim Pelaksana belum mendapatkan legalitas, lengkap dengan deskripsi tugas-tugasnya.
  4. Parameter keberhasilan festival menurut platform Indonesiana adalah manakala sudah tidak ada ketergantungan dari pemerintah secara terus menerus. Harus mandiri dengan dana publik. Tetapi yang terjadi di Jawa Timur justru sebaliknya. Gerakan Panji yang dimulai sejak tahun 2003, kemudian action-nya tahun 2007, 2008, 2009 dan seterusnya semuanya dikerjakan oleh komunitas, bersifat swadaya dan nyaris tanpa keterlibatan pemerintah. Tetapi ketika kemudian pemerintah menggelar Festival Panji Nasional 2017 di Kediri dan Festival Panji Internasional 2018 di 5 kota di Jatim maka terjadi friksi-friksi dimana ada seniman yang merasa sudah berbuat untuk Panji tidak diajak. Seolah-olah ada pelaku Budaya Panji versi pemerintah dan versi komunitas. Karena itu perlu dipikirkan untuk tidak menggunakan kata Festival karena bermakna selebrasi (pesta) yang identik dengan uang. Kalau sudah begitu maka muncul kecemburuan sosial dari mereka yang tidak terlibat.
  5. Dalam acara ini juga dikemukakan untuk merencanakan Festival Panji tahun depan. Diharapkan, acara dilangsungkan bukan hanya sebatas 4 (empat) kab/kota itu saja (Malang, Blitar, Tulungagung dan Kediri) melainkan melebar di kota-kota lain. Diusulkan pilihan tempat dibagi berdasarkan zona, yaitu zona barat (Mataraman) di Ponorogo, zona tengah (Arek) di Jombang, sedangkan zona timur (Pandalungan) di Jember. Tetapi persoalannya, manakala berkaitan dengan keterlibatan pemerintah pusat maka disyaratkan kota-kota tersebut harus sudah menyerahkan hasil Pokok-pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD). Dan ternyata, hanya Ponorogo yang sudah menyerahkan. Sedangkan Jombang dan Jember belum membuat PPKD. Disamping itu, kalau Jember, Jombang dan Ponorogo dipilih sebagai venue Festival Panji tahun 2020, maka ada persoalan kesiapan anggaran masing-masing kota tersebut yang tentunya saat ini sudah diajukan. Jadi, harus dua tahun yang akan datang, yaitu tahun 2121. Dengan demikian, penyelenggaraan Festival Panji Nusantara tahun 2020 masih tetap di dilaksanakan di Kota Malang, kab. Blitar, Kab Tulungagung, Kab. Kediri, bisa juga ditambah di Kota Kediri, dengan pengaturan jadwal yang lebih baik agar tidak berbenturan seperti kali ini. (LR)